|
|
|  | Ah, gak terasa ya, ternyata pernikahan ayah Kuss dan mama Rina sudah berjalan 2 tahun, persisnya 2 Juli 2008 kemaren. Hadiah paling istimewa setelah dua tahun adalah kehadiran Vandana Emas Paramaresi, anak perempuan kami, 15 bulan, yang kian bertumbuh. Dia tambah imut, menggemaskan, cerdas, dan menjadi muara dari segala kerinduan kami pada masa depan yang indah. Cepatlah dewasa ya, Vanda, terutama untukmulah ayah dan mama bermimpi, berpikir, dan bekerja... Insya Allah! |
|
|  | Vanda sudah mulai aktif sekali. Cenderung superaktif. Pagi hari, seusai mata terpejam, ketawa-ketiwi, lalu langsung menggandeng tangan mama atao ayah untuk ngajak jalan-jalan.
Rabu pagi kemarin, Vanda seperti ngebet banget diajak jalan kaki keliling kampung. Ayah yang menuntun. Jalan tak bisa "lurus" karena kalau ada sesuatu yang menarik perhatiannya, langsung aja dia diam di tempat, atau kalau benda, langsung aja diambil, digenggam dan dibawanya sambil berjalan.
Sampai akhirnya, setelah beberapa puluh meter dari rumah, vanda banyak tingkah, tangan ayah kurang memperhatikan gerak tubuh Vanda, dan jatuhlah dia. Tertelungkup! Dan lututnya pun tergores jalan semen yang cukup keras. Menangis keras. Hiks!
Untung tak lama. Diam lagi, senyam-senyum lagi! Vanda, vanda! Tuh, lihat, plester obat menempel di lutut kirinya. Malah bikin tambah imut... |
Vanda sudah punya berat badan normal. Setidaknya akhir Mei kemarin, saat periksa lagi ke dokter, beratnya sudah menembus angka 9 kg. Sukurah! Karena kalau kurang dari itu, berarti dia harus menjalani terapi untuk mengurus berat badan itu. Berat badan yang menurun memang risiko yang pasti menimpa kalau aktivitas fisik kian meninggi. Seperti saat periksa di klinik sore itu, wah, tingkah Vanda sudah sangat aktif. Penginnya jalan kemana-mana, sehingga ayah Kuss harus pontang-panting ngikuti kemana arah langkah yang diinginkan Vanda. Lucunya juga, Vanda sudah memiliki perkembangan psikologis yang memadai berikut memori yang kuat atas sesuatu hal. Ketika masuk ruang periksa dan menghadapi dokter, matanya langsung berarir dan menangis keras-keras. Dia ingat ketika menghadapi pak dokter berarti siap menghadapi jarum suntik. Hiks! Di sudut matanya seperti telah mengendap sebuah trauma, jarum suntuk yang tajam, dan rasa sakit. Tak apa, Vanda! Berarti itu sebuah petunjuk kalau pertumbuhan psikologis Vanda melangkah lancar... Selasa sore, Vanda diajak mama untuk imunisasi lagi. Ayah pas wira-wiri ke mana-mana, jadi tak bisa nemeni. Ada hasil rekam medis dari dokter terhadap perkembangan vanda. vanda dinyatakan di bawah ambang rata-rata berat badannya. Beratnya kini 8,5 kg. Hanya naik beberapa ons saja, ketimbang berat badan sekitar sebulan lalu yang 8,2 kg. Menurut dokter, seharusnya dia sudah bisa mencapai 9,6 kg. Waduh, terlalu kurus 1 kg. Sepulang dari imunisasi, Vanda sudah membawa cairan vitamin yang harus dihabiskan selama tiga minggu ke depan. Ah, semoga Vanda tidak apa-apa deh... |
|  | Bangun pagi, enaknya emang merancang-rancang agenda (hari ini) yang akan dilalui. Termasuk dari ngecek SMS, agendapun bisa diperkaya biar efektif geraknya, efisien waktunya. Sik yo, Vanda mo ikut ngecek SMS yang mungkin pada masuk di hape ayah en mama semalam. Paling2 melesetnya SMS malah ke-delete sebelum kebaca. Wah... |
| Rihanna - Final Goodbye [PoLaRiSNeT] | | | | | |
|
|  | Saat acara ultah ke 1, Vanda menundang sekitar 20 teman2 di sekitar. Mereka datang semua. Tepat waktu, jam 12.00 siang mereka kumpul. Acara singkat aja. Nynayi bersama. Trus Vanda niup lilin. Dan malah bingung. Makanya mama rina yang bantu niup. Habis itu, semua teman pada rebutan kasih selamat ke Vnda. Ada yang mo nyalamin, ada yang antusias nyium.. Hmmm, meriah. |
|
|  | ini aksi vanda di saat ultahnya yang pertama, rabu, 26 Maret 2008 kemarin. Dia antara lain dapat kado jaket dan kursi pink yang lucu. Nih, sedang in action... |
 | | Mar 26, '08 9:37 PM for everyone |
 4 Photos
|  | |
Vanda sudah masuk fase pemulihan yang menggembirakan. Ketimbang seminggu lalu, sampai hari ini dia sudah banyak perkembangan. Sehat. Lucu, dan periang. Kata-kata yang paling menjadi favoritnya adalah: "Hawwoo...!" Ya, pasti maksudnya kata "halo". Dia begitu sensitif untuk dengan tangkas membilang kata "hawoo.." ini ketika dengar ada nada bunyi sms di hape ayah kuss atau mama rina. Apalagi kalau dengar nada bunyi dering telpon yang lebih panjang durasinya. Pasti akan menyahut secara otomatis: " hawwoo...!" Sabtu pagi ini, sehabis subuh yang dingin, vanda sudah ingin mencari mainan dan segala benda di atas meja kamar. Ayah dan mama sudah mulai terjaga tapi malas untuk memulai kehidupan. Vanda-lah yang aktif. Dijumputnya mainan hape yang dibeli mama sehari sebelumnya. Dipegangnya. Dipencetnya tombol, dan nguik, nguik, nguik.... "Hape"-pun berdering. Dan Vanda langsung nyahut: "Hawwwoooo...." di tengah kantuk, kami hanya bisa ketawa lepas melihat aksi si Vanda ini... Huh! Nggemesin! Kami sedih. Vanda sakit. Rabu sudah ada tanda-tanda batuk-batuk kecil. Obat batuk yang masih sisa kami siagakan untuknya. Hari Kamis ternyata terus berlanjut batuk itu. Cukup kerap, dan kian berat. Ayah Kuss terpaksa menunda rencana ke Jakarta, nyiapin pameran Survey di Edwin Gallery. Kamis malam itu, vanda tampaknya kian menderita. Sepanjang malam tidak tidur nyenyak. Saat terjaga, selalu diisi dengan tangis. Malam itu kami, ayah Kuss dan mama Rina tak bisa tenang tidur. Mau ke dokter, ah, kami malah memelas kalau harus mengajak Vanda menembus malam yang pasti akan menggigilkannya. Kami berkerkeputusan untuk membawa Vanda ke dokter paginya. Tapi apa boleh buat, selepas Subuh ayah Kuss harus lari ke bandara Adisucipto untuk mengejar pesawat Mandala yang take of jam 06.10 WIB. Jadinya ayah menyerahkan mama Rina untuk secepatnya membawa ke dokter. Sekitar jam 3 sore, ayah kuss yang masih repot di jakarta, dapat sms dari mama rina: vanda terkena tipus! Hiks! Tubuh sekecil itu, serapuh itu, harus disapa virus yang juga sempat membuat ayah kuss ambruk kala SMP dulu. Malah lebih dari 1 kali. Ah, semoga Vanda kuat! Minggu siang, ayah sudah balik lagi, kembali memeluk Vanda. Sudah sedikit segar dia. Tapi pasti butuh waktu beberapa hari untuk pemulihan. Sembuhlah, Vanda! Ayah, mama, semuanya ingin vanda sehat senantiasa! Senyumlah kian manis, vanda! Tertawalah kian melengking, Vanda! Di depan teve tadi, saat ayah kuss asyik lagi dengan tontonan balap F1, vanda mulai nggrathil, tangannya jahil pegang dan banting apa aja yang ada di hadapannya. Hmmmm! (Ini catatan Gadis Arivia, seorang aktivis perempuan, yang menanggapi teks tentang gaji seorang ayah (lihat di bawah sana ya), yang dikutip dari milis Forum Pembaca Kompas) Sebenarnya "the moral of the story" dari cerita "Gaji Papa Berapa?" adalah menurut saya menggambarkan perilaku orang tua moderen sekarang di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Cerita ini menyoroti perilaku ayah. Sosok ayah ternyata penting bagi Sarah (tokoh anak perempuan di dalam cerita). Penting karena ia sebenarnya mendambakan sang ayah berperan sebagai ayah, yakni, memperhatikan kebutuhan dan kepentingan anaknya. Sarah merasa sang ayah tidak memerankan peran sebagai ayah dan berpikir bahwa kalau begitu ayah lebih baik diperlakukan seperti pegawai saja. Pegawai akan merespon dengan gaji/uang, oleh sebab itu, Sarah memakai solusi uang untuk mendapatkan waktu dan perhatian ayahnya. Beberapa waktu yang lalu di Bethesda, Maryland, USA, ada sebuah penelitian tentang sejauh mana skill menjadi orang tua telah maju atau lebih baik dari skill orang tua di zaman orang tua kita dulu. Ternyata hasil penelitian menunjukkan skill menjadi orang tua di Bethesda telah banyak menunjukkan kemajuan. Misalnya, yang disebut ayah di dalam rumah tangga moderen tidak berperilaku kasar, penuh otoriter lagi melainkan mau berkomunikasi dan sensitif akan kebutuhan anggota keluarganya. Sosok ayah tidak lagi menakutkan akan tetapi lebih fleksibel, dapat bergurau dan menjadi pendengar yang baik dan setia bagi anaknya. Ia tidak lagi berusaha untuk memaksa kehendak dirinya, namun lebih membiarkan anak-anaknya memilih serta memberikan ruang untuk bergerak dan kreatif. Sosok ayah moderen yang bertutur secara baik dengan menggunakan bahasa yang memberdayakan ternyata membentuk kepercayaan diri sang anak yang kuat dan ia belajar bahasa peradaban dengan cepat. Satu lagi yang membuat studi ini menarik adalah tentang tanggung jawab ayah di zaman sekarang pada pekerjaan domestik. Keinginan dan kepedulian ayah pada pekerjaan domestik (menyetrika, mengepel, memasak) membuat sang anak belajar bahwa setiap orang di dalam keanggotaan keluarganya bertanggung jawab dan adil dalam memikul beban. Anak mendapatkan "role model" yang memberdayakan ketika melihat sang ayah mau membuatkan teh untuk ibunya dan mengganti popok adiknya misalnya. Ayah berlaku sebagai ayah yang peduli dan bukan raja di rumahnya. Seorang feminis pernah berkata bahwa "demokrasi dimulai dari rumah". Bagaimana sang ayah dan sang ibu berelasi dan bagaimana mereka memperlakukan anak-anaknya, serta orang-orang disekelilingnya, akan tertera di dalam benaknya dan terbawa ketika dewasa. Bila relasi orang tua anak dimokratis dan berkeadilan, maka, ia akan memiliki "blue print" tersebut di dalam hidupnya kelak, paling tidak sebagai modal awal dalam kehidupan dewasanya nanti. Tokoh Sarah di dalam cerita tersebut sesungguhnya mengkritik perilaku kita sebagai orang tua, qualified kah kita sebagai orang tua? Cukup kah skill kita untuk menjadi orang tua? Mengertikah kita peran kita sebagai ayah atau sebagai ibu? Di Jakarta yang hiruk pikuk ini, ketersediaan pembantu yang melayani segala kebutuhan rumah tangga termasuk ikut melayani segala kebutuhan anak (melayani sekaligus mendidik), akhirnya, membuat anak-anak tidak mengenal konsep demokrasi dan keadilan, yang ia kenal hanyalah tuntutan-tuntutan; tuntutan untuk disuapin, diambilkan sepatu, minum, tas dan dipakaikan baju hingga celana dalam. Ia tahu pembantu bisa dibayar dan diperintah untuk melayani semua kebutuhan itu, mungkin di dalam benaknya ayah dan ibu juga pasti bisa disogok uang. Generasi bagaimanakah yang ingin kita bangun di abad ke21 ini? Inilah sesungguhnya pertanyaan besarnya. Gadis Arivia. Gaji Papa Berapa? (dikutip dari http://titiana-adinda.blogspot.com/) Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?"
"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.
"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.
Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?"
Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong" katanya.
"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Andrew
Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,
Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"
"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".
"Tapi Papa..."
Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.
Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata "Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ?
Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew
"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".
"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.
"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.
Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan anaknya. |
|  | Sabtu, 16 Feb 2008, Vanda mudik sama mama rina dan ayah kuss. Sudah sore baru berangkat. Dan ketika magrib baru sampai Kutoarjo, sekitar 85 km ke arah barat dari Yogya. Kami bertiga mampir ke rumah baru tante Ning-Oom Tri-Ivan. Mereka sedang asik berbenah. Meski rumah sudah siap huni, tapi secara resmi masih menetap di asrama Polri Kutoarjo. Sumur belum ada sih... |
Mbah Rembug, perempuan tua yang membantu kami, Rabu kemarin minta mudik selama beberapa hari. Ada saudaranya yang menikah, katanya. Ini kepulangan dia yang pertama sejak 3 bulan terakhir ikut keluarga kami. Maka, sejak Rabu itu, kami cukup repot karena semua pekerjaan rumah yang telah menjadi rutinitas sehari-hari Mbah Rembug, harus berpindah tangan ke ayah Kuss dan mama Rina. Dan mama Rina pun memutuskan untuk cuti dulu dari kantor. Demi anak kami, Vandana, yang tak boleh diabaikan kebutuhan kesehariannya. Selama ini, etos kerja Mbah Rembug bisa dibilang bagus dalam membantu keseharian kami. Pagi-pagi, sering sebelum adzan Subuh, sudah bangun dan langsung berrepot-repot di dapur. Menjerang air, bikin susu untuk ayah Kuss dan mama Rina. Semua piring dan perabot makan dicuci tandas. Lalu mencuci pakaian kami. Perempuan berusia 62 tahun itu lalu bergerak secara mekanis untuk menyapu lantai dan mengepelnya. Setelah itu gantian halaman rumah kami yang selalu diruntuhi oleh dedaunan dari beberapa pohon yang rimbun, disapunya dengan begitu bersih. Kadang langsung membakar dedaunan itu. Setelah itu, seusai mama Rina dan ayah Kuss keluar kamar, gantian anak kami, Vandana, yang menjadi tanggung jawab mbah Rembug. Memandikan, menyuap bubur susu, alpokat atau buah pir yang telah diblender. Ketika siang, memomong vanda jalan-jalan untuk cari angin, atau menghindari si kecil bosan dan merengek karena rindu susu ibu. Sore hari, ketika kami sudah kumpul bersama lagi, mbah rembug masih harus menyetrika pakaian. Semuanya berlangsung dengan tertib dari hari ke hari. Dan sekarang, ketika dia pamit untuk mudik sekitar seminggu, kami harus pandai-pandai mengatur waktu agar tidak membengkalaikan Vanda dan kerapian urusan rumah tangga. Kami jelas bisa mengatasi itu dengan segala kerepotannya. Dan ini begitu menyadarkan begitu dalam kehadiran orang-orang semacam Mbah Rembug di tengah-tengah kehidupan kami. Dia begitu penting ketika dianggap bukan berposisi tidak penting. Kami menghormati kesetiaan mbah Rembug pada tanggung jawab yang telah menjadi kesepakatan kami dan dia. Semoga Mbah Rembug pulang lagi ke tengah-tengah kami dengan antusias, bahagia, dan hati ringan. Vanda sempat menangis ketika dipamiti Mbah Rembug, sesaat setelah nenek ini membonceng sepeda motor butut milik ayah Kuss menuju terminal, mencari bus yang mengantarkannya ke Solo dan lalu ke kawasan Pracimantoro, Wonogiri sana. Tatkala Vanda menangis kecil, Mbah Rembug ikut membasah matanya. Terharu. Diciumnya pipi Vanda. Rupanya orang tua ini telah cukup terbelit tali batinnya pada buah hati kami. Vanda yang sangat kami cintai, dalam gradasi yang lain, juga cintai orang semacam Mbah Rembug. Kami tunggu lagi kau, mbah Rembug. Vanda ingin disuapi bubur dan alpukat lagi... |
|  | Minggu siang, 10 Februari 2008, vanda bareng mama rina dan ayah kuss ke mal malioboro. Ini kali kedua main ke sana untuk belanja. Mama beli baju juga topi untuk vanda, juga untuk mama sendiri. tapi mama gak ada yang cocok. Ayah beli baju kaos (polo) dan buku novel-grafis. Nah, ini foto2 vanda saat bermain di pojok toko matahari yang memang khusus unuk menunggu dan bermain. Ayah bersama vanda, sementara mama rina keliling nyari baju.
Hmmmm, vanda imut dan ceria banget! |
|
|  | Ini bukan Vandana yang bikin gemes, tapi sebaliknya. Mama Rina yang tampaknya bikin Vanda gemas, hingga digigit-gigitnya pipi gembul sang mama. Untung Vanda masih ompong sama sekali sehingga pipi mama Rina tetap mulus, tak berbelang sama sekali. Sepagi itu, Senin 4 februari, kami bertiga cuma bercanda di kamar. Mendung dan sesekali gerimis membuat kami malas keluar rumah pagi-pagi.
Tapi kok Vanda cuman gemas sama mama Rina ya? Ayah Kuss ngiri berat pengin digemesin Vanda. Tapi tetep dicuekin. Hiks! |
|
|  | Ini foto2 hari Minggu kemarin, 27 Januari 2008. Vanda dan mama Rina diajak sama pakde Anom skeluarga dan Budhe Dewi sekeluarga untuk jalan-jalan di Kaliurang. Ayah Kuss gak bisa ikut karena pas ada acara dengan tamu dari Jakarta sesiang itu. Vanda seneng banget. Kelihatan ceria dia, meski sesekali cengeng karena aleman (manja) pengin dipeluk mama rina. Nih foto2nya |
Hmmm, hari ini, sabtu 26 januari 2008, genaplah umur Vandana Emas Paramaresi 10 bulan. Malaikat kecil yang luar biasa ini telah memberi banyak hal dalam kehidupan setahun terakhir ini. Langsung atau tak langsung. Hari-hari ini, ada hal kecil yang dia bisa capai. kalau ayah Kuss atau mama Rina bilang ke Vanda, "Mana tokeknya?", dia akan bereaksi dengan cepat: "Krrrreeeggkkh!". Itu bunyi yang keluar secara reflektif dari bibir mungilnya yang lucu, dengan suara dan intonasi yang menggemaskan. Dia seperti mau menirukan suara binatang melata, tokek, yang beberapa waktu lalu selalu menyobek keheningan malam di rumah kami. Lalu kalau kami bilang ke vanda: "Kalau simbah makan kepedasan, gimana?" Dia langsung merespons dengan membuka mulut lebar-lebar dan "haaaagghhhh!" seperti orang dewasa merasakan kepedasan. Ini perilaku vanda yang lucu, yang disumbang oleh Simbah Rembug, ibu tua yang momong dan membantu urusan domestik di rumah kami dalam 2 bulan terakhir ini. Vanda sudah seperti sewajarnya anak seusia dia: sudah mulai cekatan merangkak, mulai senang berdiri dengan berpegangan benda yang bisa menyangga tubuhnya, dan sesekali terjatuh dan merengek. Kalau tengah menyusu, wuah, seperti sedang menemukan surga. Mulutnya asyik "mengenyot" tapi tangan dan kakinya berpolah-tingkah ke mana-mana. Pethakilan gak keruan. Tapi lucunya minta ampun! Sudah pegang sisir dan tahu fungsi sisir itu untuk merapikan rambut. Sudah cukup paham benda bernama hape sehingga perlu mendekatkannya ke telinga! Usia 10 bulan bagi Vanda, telah memberi banyak inspirasi bagi kami untuk semangat melakukan segala sesuatunya. Ah, vanda! Cepatlah kau besar, dan berguna untuk lingkunganmu ya, Vanda Sayang! Mmmuuuaaaaagggghhhhhhhhhh! |
|  | Ini foto2 Vanda saat maen ke rumah eyang Narno, Minggu 13 Januari 2008. Maunya sih ikut lomba merangkak di Rumah Sakit Bersalin Rachmi, tempat Vanda lahir tahun lalu. Tapi sayang, mama Rina gak tau kalo hari Minggu itu hanya daftar ulang. So, bagi yang sebelumnya belum ndaftar ya gak bisa. Lha pesertanya dibatasi. Abisnya ruang buat lomba sempitnya minta ampun siiiihhhh... Jadi ya kecewa! Juga mbah Rembug yang momong Vanda, batal jadi suporter yang heroik siang itu. Yaaahh, main2 aja di rumah eyang ma mbah Chaya, mas2 lain dan para budhe... Hiks |
 | Tetamu | |
 | Hai..jangan lupa ke Lemari Ch@ily ya... |
 | salam kenal juga. Salam :-))
|
 | Hi salam kenal...
S I D K A R Thematic Kids Event & Birthday Souvenir |
 | Rin, keren bener Mp ini ...detailnya sedaaaap...trusin yo ben sedaaap |
 | Makasih ya udah mampir. Jangan kapok mampir lagi ya. Aku numpang baca-baca dulu ya Rin. Thanks Dhona http://keluargabroto.com |
 | halo, tante pipi!!! apa kabar??? maaf lahir batin yaaaa... kok ga maen lagi ke pahatan?? |
 | lha iyo, bulik... anakmu wis piro? |
 | wahhhh ini ny. kuss to hehehe... selamat berbahagia ya atas kelahiran orchid ^_^ |
|